Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Thursday, 12 June 2014

Anak Terbuang :: Nukilan Rasa: Ustazah Norhafizah Musa.




Wahai, manusia yang sudi mendengar !
Tahukah engkau bagaimana rasanya...
Dikandung oleh seorang ibu yang membenci kandungannya ?
Apakah rasanya bernyawa di dalam rahim perempuan yang sedang berkira-kira untuk membunuh anaknya ?
Apakah rasanya terbentuk daripada dosa perzinaan yang jelik ?
Apakah rasanya menjadi bayi yang tidak diakui hak keturunannya ?
Aku telah dikeji sejak dalam kandungan.
Aku telah dihina sejak manusia mengetahui kewujudanku.

Hanya Allah Yang Maha Tahu...
Betapa takutnya aku untuk lahir ke bumi.
Akan adakah manusia yang menyayangiku ?
Akan adakah insan yang melindungiku ?
Akan adakah orang yang mengazan dan mengiqamatkan aku ?
Aku tidak bersalah.....salahkah aku untuk mendengar seruan agung daripada adzan dan iqamat ?

Aku akan tetap lahir juga...
Tapi lahirku tidak sama seperti kawan-kawanku yang lain.
Mereka disambut....sedangkan aku amat takut.
Mereka dihias pakaian baru yang comel....sedangkan aku dibungkus dengan plastik hitam.


Mereka tidur di atas tilam empuk yang wangi.....sedang aku akan bakal dihumban ke dalam tandas yang busuk.
Mereka ditunggu dengan nama yang baik-baik....sedang namaku hanyalah sumpah seranah.

Tolong....tolong....tolong....
Dimanakah pembelaku ? Dimanakah pelindungku ? Kemanakah pelarianku ?
Tolonglah manusia.....ada binatang menggigitku, ada anjing merobek kulit dan dagingku!


Tolonglah manusia....aku kelemasan dalam ruang yang gelap ini.
Aku amat sejuk ! Aku kehausan ! Aku lapar ! Aku takut !
Aku keseorangan....memang beginikah dunia ini ?

Wahai, Allah ! Ambillah aku kembali....biarkan aku pulang ke hadrat-Mu Ya- Allah....aku tak sanggup tinggal disini.
Menanggung dosa perempuan yang tidak akan sekali-kali ku panggil ibu.
Menanggung dosa lelaki yang aku haramkan lidahku memanggilnya ayah.
Aku ingin pulang ya Allah.....Kasihanilah aku....Wahai Yang Maha Mengasihani.

Kepada yang sudi mendengar,
Kutitipkan kata-kata ini...
Sebelum alam yang menyiksakan ini ku tinggalkan.
Jadikanlah diri kalian pembela dan pelindung.
Penyelamat dan rahmat kepada semua lapisan umat ini.
Jangan biarkan ramai lagi yang senasib denganku.
Ia terlalu pahit dan sukar untuk ditanggung oleh insan selemah aku.
Ia terlalu pahit dan berat untuk dipikul oleh bayi kerdil sepertiku.
Tegakkanlah amar makruf dan nahi mungkar.

Nukilan Rasa: Ustazah Norhafizah Musa.

Monday, 18 November 2013

Negeri Ini , Anak


Negeri ini, anak adalah tanah hijau penuh mahsul
terlalu pemurah dan saksama pada tiap warga yang berjasa
yang rela memberikan keringat serta setia untuk bumi tercintanya.
Usah kau persoalkan tentang derita milik siapa di negeri kaya
dan kesuraman sekejap siapa pula menjadi dalang
kalau tiba-tiba terdengar laungan dari bukit penuh gelap
itu hanyalah lolongan sang pertapa yang lemas ditikam bayang!
Negeri ini, adalah tanah luas sesayup pandangan
yang telah melahirkan ribuan pahlawan.
Rela memilih terbuang dari berputih mata,
kerana baginya, mati itu cuma sekali dan
tidak harus sia-sia.

Mereka tidak rela ini negeri tercinta
jadi kuda tunggangan atau dipekosa warga tidak bernama.
Meski darah dan tulang jadi gantian.
Kerana baginya:

negeri adalah tanah
adalah air,
adalah api,
adalah angin.
Adalah maruah,
adalah permai,
adalah berani,
adalah susila.
Adalah segala-galanya.

Dan hari ini, kata keramat itu dilaungkan.
Tanpa mengira kulit atau warna,
tampuk atau asal, percaya atau agama:

MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!

Di negeri ini anak,
mari kita hidup tanpa curiga atau rasa berbeza.
Siapa di sini adalah warganya,
kerana meski putih atau hitam, darahnya tetap merah.
Darahnya tetap merah.
Usah dilebarkan jurang atau mencipta kelam.
Mari kita dirikan harapan dan teguhkan kesetiaan.
Marsli N.O

17 Jun – Julai 1988
Dari antologi: Di Atas Mimbar Merdeka, terbitan DBP 1989

Wednesday, 23 October 2013

Mencari Wira


Berkurun kita berburu mencari makna kata
Berkurun kita keliru mengenal makna wira:

Jebat dan Tuah, siapa patut dipuja?
Lemas kita dilanda curiga
antara setia dengan pembela.
Selamanya wira dinilai oleh masa
selaman wira dicanai kuasa
selamanya wira dinobat oleh harta.
Akhirnya wira entah dimana
didepan kita pengkhianat bangsa.
Bangunlah dari lena khayali
kita kembalikan kata pada lidah
kita pulangakan pandang pada akal
ita keringkan rajuk pada tindak.

Akal tak pernah mengalah kalau diajak bertelagah
tapi selamanya kita mematikan akal
kerana akal membijaksanakan manusia
dan si bijak tidak perlu hidup
seperti wajarnya budak ditikam
atas kebijaksanaan yang mengancam.

(ah ! sejarah todak kerap sangat berulang)
Marilah kita didihkan akal
mentafsir kata dengan sempurna

- ada waktunya berontak itu keji
- ada waktunya berontak itu suci
- ada waktunya berontak itu cemar
- ada waktunya berontak itu samara

berubah musim beralih sikap
bertukar pimpin bersalin harap
tapi pejuang tidak pernah terpuja
tika darahnya mengucur seksa matanya dicungkil buta
tanganya diikat waja kakinya dirantai sula
dan kita mengulang keanehan
berebut menabur bunga dan pandan
didada mereka setelah kematian

Sesal hanya datang sekali
tapi seksanya sepanjang hayat
lukanya berparut berabad-abad

Nukilan:  Mohamad Saleeh Rahamad